Seorang karyawati bank milik pemerintah, RS alias Vina, menggelapkan uang nasabah hingga mencapai Rp 6 miliar lebih. Diketahui, Vina sempat berpindah ke sejumlah tempat untuk menghindari pihak kepolisian. Namun, karena sinyal handphone, Vina akhirnya berhasil diciduk pada Sabtu (4/7/2020) pukul 05.00 WIB.

Penangkapan Vina dilakukan sendiri oleh Kasat Reskrim Polres Abdya. Kapolres Abdya, AKBP Muhammad Nasution SIK, melalui Kasat Reskrim Polres Abdya, AKP Erjan Dasmi STP, mengatakan penangkapan Vina berhasil dilakukan setelah pihaknya sukses melacak sinyal handphone pelaku. "Iya benar, Abang yang gerebek langsung di rumah kontrakan di kawasan Pegasing Aceh Tengah," ujar Muhammad Nasution melalui Erjan Dasmi.

"Iya, setelah melacak signal handphone pelaku, akhirnya saya ke TKP, untuk menangkap pelaku," sambung dia. Sebelum ditangkap, Vina sempat pergi bersama ibunya ke Sumatera Barat untuk menjenguk mertuanya yang sakit. Sepulangnya dari Sumatera Barat, Vina lalu melarikan diri ke Aceh Tengah.

Sementara itu, sang ibu kembali pulang ke Abdya. Ketika ditangkap, Vina sedang bersama sepupunya. Keduanya, kata Erjan, dibawa ke Abdya untuk dimintai keterangan.

"Kita tidak tahu, apakah sepupunya ini ikut terlibat atau tidak, namun mereka berdua ini, harus kita minta keterangan," ungkap Erjan. "Iya, kita lihat, gimana hasilnya, kalau tidak terlibat, ya kita lepaskan, tidak mungkin juga kita tahan, tapi kalau ikut terlibat, maka kita tahan," lanjut dia. Kepada kepolisian, Vina mengaku ia pusing karena hadiah yang ditawarkan pada nasabah terlalu besar.

Vina mengatakan ia hanya memutar uang milik nasabahnya. “Dia mengaku, dia putarkan uang nasabah ini. Karena terlalu besar kasih hadiah, jadi pusing sendiri dia, nggak sanggup nutup. Itu masih informasi awal," beber Kasat Reskrim Polres Abdya, AKP Erjan Dasmi STP, Minggu, dilansir . Berdasarkan informasi yang didapat Serambi Indonesia, uang yang dibawa kabur Vina mencapai lebih dari Rp 6 miliar.

"Sejauh ini, kita belum mendapatkan nilai total, tapi memang miliaran rupiah," ujar Erjan. Diketahui, target Vina adalah bapak bapak pejabat, pengusaha, hingga kontraktor. Seorang korban yang merupakan pengusaha, mengungkapkan ia sempat memberikan uang sebesar Rp 2 miliar pada Vina.

Sementara itu, pengusaha lainnya, Yacob, hampir menjadi korban. Yacob yang merupakan pengusaha sawit mengatakan Vina berjanji akan memberinya hadiah berupa satu unit N Max jika bersedia mendepositokan uang sebesar Rp 1 miliar. “Iya, saya hampir tertipu dengan RS ini. Dia janji memberikan sepeda motor N Max kalau saya mau depositokan uang Rp 1 miliar selama 1 tahun," kisah Yacob.

Tapi, Yacob keburu curiga dengan iming iming yang diberikan Vina. Ia mengatakan gaji Vina sebagai karyawan bank pastinya terbatas, sehingga tidak mungkin bisa memberikan hadiah satu unit motor secara cuma cuma. Karena itu Yacob menolak tawaran Vina tersebut.

"Saya mulai curiga, kalau pun ada uang, mana mungkin ada pegawai bank gajinya terbatas, mau memberikan sepeda motor cuma cuma, kalau tidak bertujuan merayu kita,” tutur Yacob. “Maka tawaran itu saya tolak, sehingga saya beri alasan uang sawit belum cair," sambungnya. Jika terbukti menggelapkan uang nasabah, Vina akan dijerat pasal 372 dan 378 KUHP, dengan ancaman hukuman maksimal empat tahun penjara.

Namun, penyidik juga bisa mengembangkan kasus ini menggunakan UU Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan UU Perbankan. Pasalnya, Vina masih aktif sebagai karyawati sebuah bank pemerintah saat melakukan dugaan penipuan.