NamaTotok Santosa Hadiningrat tiba tiba menjadi buah bibir banyak orang. Namanya terkenal, setelah viral adanyaKerajaanAgung Sejagat di Purworejo yang didirikan oleh Totok. Meskibanyak orang yang menertawakan adanya 'kerajaan' di Purworejo ini, tapi nyatanyaTotok Santosa Hadiningrat punya ratusan pengikut.

Lalu,bagaimana bisa pengikutitu percaya kepada omongan Totok, dan siapa sebenarnya Totok? Totok Santosa Hadiningrat, atau yang kerap dipanggil Sinuhun olehparapengikutnya, ternyata pernah menjadi pemimpin sebuah organisasi bernama Jogjakarta Development Committe (JOGJA DEC). Pada 2016, saat itu sedang heboh soal organisasi Gafatar, yang membuat pengikutnya rela melakukan apapun, termasuk kabur dari rumah, sampai mencuri uang orang tua untuk didonasikan kepada organisasi.

Nah, Jogja DEC saat itu sempat membuat banyak orang cemas, karena dikhawatirkan mirip dengan Gafatar. Janji itu adalah memberikan dana setiap bulannya sebanyak 100 200 dolar Amerika kepada setiap anggotanya. "Kami akan berikan uang pada anggota yang sudah terdaftar sebesar 100 200 dollar per bulan dalam bentuk dana kemanusiaan melalui koperasi yang akan kami bentuk,"

"Namun semua program tadi akan kami mulai tahun 2017 nanti karena sekarang masih dalam proses perizinan," ujar Totok Santoso Hadiningrat, dalam konferensi pers yang diadakan di Ndalem Pujokusuman Keparakan Mergangsan, Yogyakarta, Jumat (11/3/2016). Saat itu, Totok berperan sebagai Dewan Wali Amanat Panitia Pembangunan Dunia Wilayah NusantaraJogjaDEC. Dana tersebut menurutnya sudah tersedia dan berasal dari lembag keuangan tunggal dunia yang bernama Esa Monetary Fund yang berpusat di Swiss, dan diklaim memiliki uang dalam jumlah tak terbatas.

Pemilihan mata uang dolar juga diakuinya sebagai sebuah solusi agar perekonomian indonesia dan dunia tidak terpuruk yang akan menyebabkan potensi perang dunia ketiga. "Kenapa harus dolar, karena kita ingin menghindari deflasi," ujarnya. Dana hanya akan diberikan kepada masyarakat yang sudah terdaftar resmi sebagai anggotaJogjaDECdan memiliki NIK (Nomer Induk Kemanusiaan) yang sifatnya global.

Uang akan disalurkan melalui lembaga koperasi yang ditargetkan akan berdiri di seluruh desa di DIY. Ketika diwawancarai itu, Totok mengklaim sudah memiliki anggota lebih dari 10 ribu orang yang telah terdaftar. Mereka menargetkan bisa merekrut 500 ribu anggota hingga nanti menjalankan program pada tahun 2017.

Klaim dari organisasi ini pun tak jauh beda dengan Kerajaan Agung Surakarta, yang diklaimbergerakuntuk kesejahteraan manusiadan hal hal yang tak jauh dari kata kata welas asih. "Jogja Development Commitee bukanGafatarataupunGafatarjilid dua, bukan terroris, akan tetapi Jogja Dec didirikan dengan penuh welas asih untuk memanusiakan manusia dengan menjalankan program kemanusiaan," jelas KRT Pujodiningrat yang menjabat sebagai MWA JogjaDECWilayah Archipelago. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa Jogja Dec memiliki visi membangun masyarakat Yogyakarta menjadi masyarakat yang cerdas, terampil, sejahtera lahir dan batin.

Mereka mengaku mengusung misi menggerakkan seluruh potensi masyarakat Yogyakarta, untuk bersama sama membangun daerahnya, termasuk membangun dirinya sendiri agar jadi manusia seutuhnya. "Lembaga ini menitikberatkan program pembangunan untuk meningkatkan derajat hidup, dalam bentuk program kemanusiaan, Jogja Dec berasaskan Pancasila," tambahnya. Seorang korban Jogja DEC, ternyata tinggal tak jauh dari lokasi Totok membangun Kerajaan Agung Sejagat.

Dia adalah Sri Utami (40). Sri Utami mengaku pernah menjadi anggota dan ikut dalam organisasi yang di pimpin oleh Totok Santosa tersebut. Utami menceritakan jika ketika bergabung dalam DEC Dulu sempat ada iuran kartu anggota (KTA) sebesar Rp 15 ribu.

"Selain iuran KTA suruh bayar seragam juga senilai Rp 3 juta. Seragamnya itu dulu seperti army atau militer loreng loreng," katanya. Totok Santosa Hadiningrat, atau Sinuhun itu sendiri menjanjikan mendatangkan Dolar Amerika Serikat ke Indonesia. Uang tersebut untuk membiayai kegiatannya dan memberi kesejahteraan bagi bangsa Indonesia.

Karena merasa tidak ada kegiatan yang jelas dan hanya kumpul kumpul saja, Utami akhirnya keluar dari EDC. "Bilangnya bergerak di bidang kemanusiaan, tetapi nyatanya belum ada yang disalurkan. Karena keberadaanya EDC itu dulu masih merintis disini," tambahnya.