Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Rizal Ramli mengklaim bisa menyelamatkan perekonomian Indonesia akibat pandemi Covid 19 dalam rentang waktu setahun. Ekonomi Indonesia pada kuartal II (Q2) mengalami kontraksi 5,32%. Jika kontraksi berlanjut pada kuartal III (Q3), secara teknikal Indonesia bisa disebut mengalami resesi.

Rizal Ramli mengaku kecewa terhadap kondisi perekonomian Indonesia saat ini. Menurut Rizal Ramli, Indonesia telah mengalami krisis akibat pandemi Covid 19 selama enam bulan sejak Maret 2020. "Saya kecewa krisis sudah enam bulan, tidak ada kebijakan yang dirasakan rakyat. Ada kecil sih," ujar Rizal Ramli di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (19/8/2020).

"Nah, kita bisa bereskan ini dalam kurang waktu satu tahun," sambungnya. Rizal menilai perekonomian Indonesia saat ini lebih parah dibanding kondisi pada tahun 1998. Perekonomian di daerah, khususnya luar Pulau Jawa, bergeliat pada saat krisis 1998.

Indonesia, kata Rizal Ramli, tidak memiliki pemimpin dengan kapasitas mengatasi krisis ekonomi saat ini. Nilai tukar rupiah anjlok dan Indonesia tidak mencatat peningkatan ekspor. "Dengan cara penanganan yang amatiran, dengan kelemahan kepemimpinan dan visi, bisa bisa krisis ini akan lama lagi. Bisa satu setengah tahun. Saya yakin rakyat tidak siap," kata Rizal Ramli.

Rizal Ramli berharap pemerintah melakukan perubahan untuk menyelamatkan Indonesia dari kemerosotan ekonomi. Yakni, dengan meningkatkan daya beli kalangan menengah ke bawah. "Kenapa? Mereka yang paling butuh. Kalau kita pompa, dia punya uang, dia pasti belanja," kata Rizal. Rizal menyontohkan kebijakannya saat menjabat Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri era Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Ketika itu, Rizal meminta Gus Dur agar menaikkan gaji Aparatur Sipil Negara (ASN), anggota TNI Polri, pensiunan ASN, serta pensiunan TNI Polri. Menurut Rizal, ekonomi akan berjalan ketika gaji kelompok pekerja tersebut dinaikkan. Ujungnya pertumbuhan ekonomi bisa naik dari yang tercatat saat periode kepemimpinan Gus Dur yakni minus tiga persen.

"Dalam 21 bulan, jadi 4,5 persen (pertumbuhan ekonominya). Argumentasinya sederhana, karena TNI, ABRI, PNS, dan pensiunan, tidak punya uang. Begitu mereka ada uang, dia belanja semua. Akibatnya sektor retail hidup, ekonomi hidup," ucap Rizal Ramli.