Ahmad Hadian Lukita, Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) mengatakan pihaknya berupaya membantu klub klub Indonesia agar tidak mati suri lewat subsidi. Namun, sembari membantu klub klub peserta kompetisi, PT.LIB juga terpaksa mengencangkan ikat pinggang khususnya pada biaya operasional perusahaan agar roda perekonomian perusahaan tidak mendekati jurang kebangkrutan. Lanjutnya, saat rapat internal manajemen PT.LIB, mengencangkan ikat pinggang (menghemat anggaran) menjadi program utama mereka saat ini sembari merencanakan kompetisi.

Ada pun beberapa program yang telah dihemat oleh PT.LIB adalah perubahan di pelatihan, gathering, rapat kerja, penundaan karyawan untuk mendapatkan lisensi. "Semua kami hemat saat ini. Memang kami tidak ada pemasukan sebab kompetisi tidak jalan, dan komitmennya sponsor juga ada pemasukan jika kompetisi berjalan. Ini tentu sebuah kerugian. Tapi kami akan berusaha dengan berbagai cara. Kami juga ada jaringan untuk membantu karena kami yakin Februari (2021) liga berjalan. Walau izin belum keluar, keyakinan ini yang kami jaga," tambahnya. Menurutnya, hingga saat ini, PT.LIB masih berdiskusi dengan sponsor hingga beberapa waktu ke depannya.

"Intinya kami ada saling ketergantungan bahwa jika tidak ada sepak bola maka industri yang berhubungan dengan sepak bola akan terganggu. Sepak bola adalah sesuatu yang menarik bagi industri ini. Tentu kami ingin bersama sama menghidupkan industri ini," sambungnya.