Ari Askhara masih diperbincangkan masyarakat. Pemberitaan tentang dirinya yang menyelundupkan Harley Davidson di maskapai Garuda Indonesia, tak henti menarik perhatian publik. Setelah dipecat dari jabatannya sebagai Direktur Utama Garuda Indonesia, kini satu per satu boroknya dibongkar oleh para pegawainya.

Ketua Serikat Pekerja Gapura Angkasa, Edi Lesmana memaparkan perlakuan tidak menyenangkan yang dilakukan oleh Ari Askhara. Edi Lesmana menuturkan, tekanan dari Ari Askhara terlalu tinggi. Menurutnya, anak perusahaan dari Garuda Indonesia diperlakukan sewenang wenang oleh eks Dirut Garuda Indonesia itu.

"Terjadi lagi, cucu perusahaan masuk, sekarang jadi Vice President (VP) di Gapura Angkasa. Menurut kami, Gapura Angkasa bisa menolak," tutur Edi Lesmana saat hadir di , Selasa (10/12/2019). Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Berdasarkan penuturannya, seharusnya direksi Gapura Angkasa dapat mengambil sikap.

"Direksi kami tidak bisa berperan, karena tekanan Ari Askhara terlalu tinggi," katanya. "Siapapun yang melawan dia, akan diganti dan terbukti dirut kami plt semua," jelasnya. Edi Lesmana menuturkan, Ari Askhara membuat kebijakan yang tidak masuk akal.

Ia mencontohkan soal adanya jabatan Vice President (VP) yang memiliki karekter tidak cocok dengan Ari Askhara, dipindah tugaskan ke Gapura Angkasa. Berdasar penjelasan Edi Lesmana, jabatan VP memiliki gaji sekira Rp 46 juta di Garuda Indonesia. "Di Gapura, tidak ada yang gajinya Rp 46 juta," kata Edi Lesamana.

Pria yang hadir mengenakan kacamata tersebut menerangkan, dalam waktu tiga bulan, jabatan VP yang dipindah tugaskan ke Gapura Angkasa menerima gaji Rp 46 juta. "Sehingga di sistem, di kami ini menjadi berantakan. Sementara, kami punya Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)," katanya. Di program tersebut, Edi menambahkan Gapura Angkasa tidak bisa menerima orang luar masuk begitu saja.

Hal yang mengganjal yakni, orang orang suruhan Ari Askhara memerintah Direktur Personalia yang berinisial HA untuk masuk ke Gapura. Ketua Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (IKAGI), Zaenal Muttaqin mengungkap adanya sejumlah diskriminasi yang dilakukan Garuda Indonesia kepada pegawai. Pengakuan tersebut disampaikan Zaenal Muttaqim dalam acara , Selasa (10/12/2019).

"Pada prinsipnya di perusahaan Garuda Indonesia ini memang banyak hal yang terjadi, beberapa peristiwa yang diskriminasi terhadap perlakuan pegawai itu sangat kental," jelas Zaenal Muttaqin. Diberitakan sebelumnya, diskriminasi tersebut terjadi antara pegawai darat, pilot dan awak kabin. Zaenal Muttaqin mengungkapkan, perlakuan terhadap pegawai seringkali dibeda bedakan.

"Jadi pada bagian lain, kadang kadang budget kita awak kabin ini support kepada bagian yang lain, artinya ada darat, pilot dan kabin," ujar Zaenal Muttaqin. Diskriminasi tersebut misalnya dalam bentuk uang terbang serta penerbangan jarak jauh tanpa menginap. Penerapanpenerbangan jarak jauh tanpa menginap itu menghilangkan travel allowance awak kabin.

"Penerbangan jarak jauh dengan tidak menginap itu kan coast produksi nya kecil. Jadi menghilangkan travel allowance kita, menghilangkan biaya penginapan kita, menghilangkan biaya loundry kita, di cut off tadi, jadi biaya biaya yang harus kita terima hilang," ungkapnya. Selain itu, juga ada diskriminasi yang sifatnya punishment . Soal membawa barang berlebihan, jika hal tersebut dilakukan oleh pemegang bagian penting di Garuda Indonesia maka tidak akan dipermasalahkan.

"Misalkan pilot membawa barang legal berlebihan itu tidak masalah hanya membayar pinalti saja sudah," ujarnya. Namun, saat awak kabin membawa barang berlebihan langsung dilaporkan ke pusat dan memperoleh punishment . "Kita bekerja dalam perusahaan yang sama tapi perlakuan perusahaan pada kita berbeda," ujarnya.

Menurut Zaenal Muttaqin, dari dulu sampai sekarang ada semacam kekuatan tidak berbentuk yang mengendalikan organisasi di perusahaan Garuda Indonesia. "Board of Directors (BOD) mau semacam apapun juga kalau orang orang di bawah ini tidak dikendalikan itu sama hasilnya," ungkap Zaenal Muttaqin. Zaenal Muttaqin menuturkan, kejadian soal diskriminasi ini sudah lama berhembus di Garuda Indonesia.

Namun diperparah setelah periode kepemimpinan eks Direktur Utama Garuda Indonesia, Ari Askhara.