Pengusaha dan politisi Sandiaga Salahuddin Uno menceritakan kehidupan pahitnya setelah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) di Amerika Serikat dan memutuskan kembali ke Indonesia. Sandiaga menyatakan, saat itu ia tak memiliki banyak harta sehingga harus memutar otak agar bisa bertahan hidup. Untungnya, Sandiaga Uno menjelaskan, terdapat peran besar sang istri, Nur Asia Uno yang membantunya.

Hal itu berawal dari pernyataan Daniel Mananta terkait kehidupan Sandiaga. "Tadi Mpok Nur sempat bilang kalau Mas Sandiaga bilang 'please jangan ceraikan gue', saya percaya di 7 tahun masa pernikahan itu kata cerai menakutkan banget." "7 tahun itu cobaan berat bagi suami istri dan saat itu kalian mengalami kehidupan pahit, krisis ekonomi, terus gak bisa tinggal di rumah. Nah, apa yang membuat Mpok Nur tetap percaya dan melihat potensi Bang Sandi?" tanya Daniel Mananta.

Nur Asia Uno menjelaskan, berkat ia mengenal lama sosok Sandiaga Uno maka ia memiliki keyakinan terhadap suaminya tersebut. "Saya yakin dia sosok yang komitmen dan akan melaksanakan janjinya. Makanya saat Bang Sandi bilang kita sudah tak punya apa apa, itu saya bilang semua yang ada harus jual supaya bisa survive," aku Nur Asia Uno. Meski demikian, Sandiaga Uno dalam kondisi yang putus asa saat krisis tersebut.

"Dia bilang gak mungkin dijual, kalau dijual rumah di Singapura mortgage nya tetap harus dibayar dan kita nombok. Tetapi saya bilang tak apa apa," imbuh Nur Asia Uno. Nur Asia begitu mendukung segala langkah yang diambil Sandiaga Uno saat terkena PHK itu. Ia bahkan tak mempermasalahkan harta bendanya habis dijual.

"Yang penting kita dan anak anak masih sehat, orangtua juga masih ada. Saya memberikan positif thingking, itu bukan sesuatu hal yang kiamat," beber Nur Asia Uno. Nur Asia Uno tampak sabar dan setia mendampingi sang suami meski dalam kehidupan yang pahit tersebut. Ia pun berserah diri kepada Tuhan YME.

Hingga kemudian, titik terang untuk kehidupan lebih baik menghampiri mereka. "Saya ikhlas karena semuanya titipan. Dalam keadaan huru hara, anak kedua saya lahir di Desember dan PT Saratoga Investama Sedaya terbentuk. Jadi Tuhan memberikan cobaan gak lama, kita menerima dan bagian dari kehidupan," terang Nur Asia Uno. Sandiaga Salahuddin Uno itu rupanya sempat mengalami ketakutan ketika mendengar bunyi telepon usai terkena PemutusanHubungan Kerja (PHK) saat krisis moneter 1997.

Saat itu Sandiaga Uno menjadi pengangguran setelah perusahaan tempatnya bekerja di Amerika bangkrut. Pria lulusan Wichita State University, Amerika Serikat ini menjelaskan, saat terkena PHK maka tak ada pilhan lain baginya selain pulang ke Indonesia. "Kita mengalami kehidupan yang naik turun, kesusahan dialami saat kita kena PHK di 1997. Saya balik ke Jakarta, ke rumah orang tua," imbuh Sandiaga Uno.

"Kita tak punya rumah," celetuk Nur Asia Uno. "Ya gak usah diingatkan juga. Jadi sebetulnya sampai sekarang ini rumahnya Nur, saya menumpang saja," aku Sandiaga Uno. Dengan kehidupan seperti itu, lanjut Sandiaga, istrinya pun berinisiatif untuk menjual cincin.

"Dia jual cincin dari orangtuanya untuk membiayai kita supaya bisa sewa rumah, renovasi rumah dan sisanya modalin usaha. Setelah di PHK, banting setir buka usaha sendiri sebagai konsultan keuangan," terang Sandiaga Uno. Sandiaga Uno menyatakan, saat itu merupakan momen yang diingatnya karena mengalami kesusahan bersama. "Mpok Nur ini selalu memberikan semangat. Saya juga kehilangan kepercayaan diri waktu di PHK, sempat keringetan saat bangun malam, sempat juga ketakutan mendengar dering telepon," jelas Sandiaga Uno.

Bukan tanpa alasan, Sandiaga Uno merasakan hal tersebut karena ada beban yang harus ditanggungnya setelah di PHK. "Ada tagihan kartu kredit, utang sama bank dan kita harus lalui pada saat itu. Makanya saat kita lihat kondisi pandemi covid 19 ini saya berpesan ke managemen perusahaan kami, PHK itu keputusan paling terakhir karena aset kita ada di SDM. Saya gak ingin orang lain merasakan hal yang sama," papar Sandiaga Uno. Lebih lanjut, Sandiaga Uno menyatakan, perasaannya yang kaget begitu terkena PHK padahal ia merasa kerjanya berprestasi.

"Gak pernah ada bayangan di PHK, terus masuk ke entrepreneur itu sebuah jalan dari Allah SWT. Sebuah musibah berubah menjadi hikmah, berujung berkah. Ini transformasi yang maha berat," ujar Sandiaga Uno. Meski demikian, Sandiaga Uno mengambil hikmah dari seluruh peristiwa pahit itu. Berbekal networking yang baik dengan perusahaan keuangan di dalam maupun luar negeri, Sandiaga Uno menjalankan bisnisnya dengan membangun penasihat keuangan bernama PT Recapital Advisors.

Pendiri PT Astra International, William Soeryadjaya, adalah mentor Sandi melakoni bisnis tersebut. Hingga tahun 2009, ada sekitar 12 perusahaan yang diambil alih oleh PT Saratoga. Di titik ini, kepulangan Sandi ke Indonesia lantas membawanya pada kesuksesan besar.

"Cerita suksesnya itu, Nur Asia jadi salah satu investor awal saya karena dia jual cincin untuk modal awal. Sekarang nagih dividen tiap tahunnya," tutur Sandiaga Uno.