Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) terbaru menunjukkan 47 persen warga menganggap kerjasama Indonesia dan China adalah murni bisnis yang saling menguntungkan. Responden menilai tidak ada kaitan dengan paham komunisme atau PKI. Menurut Direktur Eksekutif SMRC Sirojudin Abbas hal tersebut menunjukkan kampanye negatif untuk membangun citra bahwa peningkatan hubungan perdagangan Indonesia dengan China adalah sesuatu yang berdampak buruk karena akan menghidupkan kembali komunisme tidaklah efektif. Survei SMRC, kata Sirojudin, menunjukkan persentase warga yang setuju dengan pendapat kerjasama Indonesia dan Tiongkok dapat menghidupkan kembali paham komunisme dan PKI di Indonesia hanyalah 26 persen.

Namun demikian, Abbas menyatakan angka tersebut tidak bisa dianggap remeh. Hal itu disampaikannya saat mempresentasikan hasil survei nasional SMRC bertajuk Sikap Publik atas Isu Kebangkitan PKI secara virtual pada Rabu (30/9/2020) di Jakarta. “Kita harus ingat bahwa menurut survei ini sebenarnya warga yang percaya dengan isu kebangkitan PKI hanya 14 persen. Dan yang percaya kebangkitan PKI sudah menjadi ancaman lebih kecil lagi. Jadi kalau ada 26 persen warga yang menganggap kerjasama dengan Tiongkok dapat membangkitkan kembali paham komunisme, itu menunjukkan bahwa kekhawatiran itu sebenarnya masih hidup dan sangat mungkin dieksploitasi," kata Sirojudin.

Pandangan yang setuju dengan pendapat kerjasama Indonesia dan China dapat menghidupkan kembali paham komunisme dan PKI, kata Sirojudin, berbeda antara kelompok demografis. Persentase pria yang setuju dengan pendapat tersebut sekitar 29 persen, sementara 24 persen perempuan setuju. Sedangkan warga kota yang setuju dengan pendapat tersebut 26 persen, sementara di desa 27 persen.

Warga yang setuju dengan pendapat tersebut, kata Sirojudin, lebih banyak pada warga yang tinggal di Bali, Nusa Tenggara yakni 53 persen, Jawa Barat 39 persen, dan Kalimantan 38 persen, sementara di daerah lain, persentasenya di bawah 30 persen. Dari sisi agama, lanjut Sirojudin, yang beragama Islam dan setuju dengan pendapat tersebut hanya 26 persen, sementara yang beragama lainnya 33 persen. Dilihat dari faktor suku, kata Sirojudin, yang setuju dengan pendapat tersebut lebih banyak berdarah Minang yakni 55 persen dan Sunda 37 persen.

Dari sisi usia, kata Sirojudin, kelompok berumur 21 ke bawah paling tinggi yang percaya dengan pendapat tersebut 37 persen dan kelompok umur lainnya di bawah 26 persen. Dari sisi pendidikan, lanjut Sirojudin, yang berpendidikan SLTA paling tinggi yang setuju dengan pendapat tersebut 29 persen dan kelompok pendidikan lainnya di bawah 26 persen. Dari sisi pendapatan, kata Sirojudin, kelompok berpendapatan Rp 1 sampai 2 juta dan Rp 2 sampai 4 juta lebih banyak yang setuju dengan pendapat tersebut yakni 31 persen.

Sedangkan kelompok berpendapat selain itu, persentasenya jauh lebih kecil yakni di bawah 23 persen. Sirojudin juga melihat tingkat kesetujuan dengan pendapat kerjasama Indonesia dan China dapat menghidupkan kembali paham komunisme dan PKI berhubungan dengan pembelahan masyarakat terkait Pemilihan Presiden 2019. Warga yang setuju dengan pendapat tersebut, kata Sirojudin, lebih banyak di kalangan pendukung Prabowo dibandingkan di kalangan pendukung Jokowi.

Survei SMRC menunjukkan 40 persen pemilih Prabowo pada Pilpres 2019 setuju dengan pendapat tersebut, sementara hanya 21 persen pemilih Jokowi yang setuju. Sedangkan dari sisi pilihan partai politik, warga yang setuju dengan pendapat tersebut lebih banyak ditemukan pada pemilih PKS yakni sebesar 54 persen, pemilih NasDem 53 persen, dan pemilih Gerindra 41 persen. Survei Nasional tersebut dilakukan pada 23 sampai 26 September 2020 dengan melibatkan 1203 responden yang diwawancara per telepon yang terpilih secara random.

Margin of error dari survei tersebut diperkirakan sebesar kurang lebih 2.9 persen.